Transparansi dan Akuntabilitas Jadi Fondasi Kepercayaan Publik
Kepercayaan publik tidak cukup dibangun hanya melalui regulasi, kecanggihan sistem, maupun besarnya anggaran. Tanpa transparansi dan akuntabilitas, berbagai kebijakan dan program yang dijalankan pemerintah maupun badan usaha berpotensi kehilangan kepercayaan masyarakat.
Hal tersebut menjadi sorotan dalam Seminar Nasional 2026 yang diselenggarakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Jawa Tengah bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Sabtu (29/8/2026). Seminar mengusung tema “Membangun Kepercayaan Publik melalui Transparansi Pemerintah dan Badan Usaha: Transparansi dan Akuntabilitas sebagai Fondasi Kepercayaan Publik” dan berlangsung di Kampus Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Jalan Kaligawe, Semarang.
Rektor Unissula, Prof. Dr. Gunarto, SH., MH., mengatakan bahwa forum tersebut menjadi ruang pertemuan antara akademisi, profesional, dan praktisi yang memiliki kompetensi di bidang akuntansi, pemeriksaan, tata kelola, serta akuntabilitas publik.
Menurutnya, pengelolaan keuangan negara tidak boleh hanya dipahami sebagai persoalan angka dalam laporan keuangan. Lebih dari itu, terdapat tanggung jawab besar untuk memastikan setiap sumber daya yang dikelola benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kepercayaan publik dibangun bukan hanya oleh apa yang dilakukan, tetapi juga oleh seberapa terbuka kita mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan,” katanya.
Karena itu, lanjutnya, transparansi tidak boleh dipandang sekadar sebagai kewajiban administratif. Begitu pula akuntabilitas tidak sebatas penyelesaian laporan, melainkan menjadi fondasi moral dan institusional dalam menjaga amanah publik.
Ia menambahkan, pengelolaan sumber daya yang dilakukan pemerintah maupun badan usaha harus senantiasa mempertimbangkan kepentingan masyarakat. Setiap keputusan di bidang keuangan pada akhirnya harus dapat dipertanggungjawabkan serta memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.
Dalam konteks tersebut, pemeriksaan, pengawasan, dan tata kelola memiliki posisi strategis untuk memastikan pengelolaan keuangan negara berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip yang baik.
Namun, membangun tata kelola yang baik bukan hanya menjadi tugas lembaga pemeriksa seperti BPK. Tanggung jawab tersebut merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, badan usaha, perguruan tinggi, organisasi profesi, serta masyarakat.
“Seminar ini memiliki urgensi yang sangat tinggi, terutama di tengah tuntutan masyarakat yang semakin besar terhadap keterbukaan informasi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua IAI Wilayah Jawa Tengah, Hendri Santosa, SE., M.Si., Ak., CA., CFrA., CRP., CGCAE., QRGP., mengatakan bahwa sinergi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan lembaga pemeriksa sangat dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya penting untuk memastikan pendidikan akuntansi mengajarkan standar teknis, tetapi juga untuk menanamkan nilai etika dan integritas kepada calon akuntan.
Ketua Panitia Seminar Nasional, Provita Wijayanti, SE., M.Si., Ak., CA., PhD., menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan. Secara khusus, apresiasi disampaikan kepada Ditjen Pemeriksaan Keuangan III BPK RI, IAI Jawa Tengah, dan Unissula yang telah bekerja keras dengan penuh dedikasi, kebersamaan, dan keikhlasan sehingga seminar nasional dapat terlaksana dengan baik, lancar, dan sukses.
Menurutnya, di balik suksesnya sebuah kegiatan terdapat kerja keras yang tidak selalu terlihat, mulai dari koordinasi, persiapan, hingga pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran. Berbagai hal kecil yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab tersebut menjadi bagian penting dari keberhasilan sebuah kegiatan.
“Semoga segala ikhtiar, kerja sama, dan kontribusi Bapak/Ibu menjadi amal kebaikan yang bernilai ibadah serta membawa manfaat bagi banyak pihak,” ungkap Provita.
Seminar Nasional 2026 tersebut diikuti oleh 871 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Sebanyak 250 peserta hadir secara luring, sementara 621 peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom.