Menu 

Drama Sultan Agung Ingatkan Bangsa Indonesia Untuk Tak Termakan Politik Adu Domba

Wednesday, September 12th, 2018 | Dilihat : 29 kali

(8) Drama Sultan Agung

Unissula menggelar drama Sultan Agung Sang Pejuang dalam malam inagurasi menyambut mahasiswa baru 2018 yang dihelat di Auditorium Unissula pada 8 September 2018. Rektor Ir Prabowo Setiawan MT PhD yang tampil memerankan tokoh Sultan Agung tampil memukau demikian juga dengan tokoh tokoh lainnya seperti dekan Fakultas Teknik Ir Rahmat Mudiyono MT PhD sebagai Kiai Rangga, Dekan Fakultas Bahasa dan Ilmu Komunikasi Hartono SS MPd sebagai Ki Juru Kiting, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Imam Kusmaryono SPd MPd sebagai Bodor.

Pemeran lainnya antara lain Wahyu Endang Setyowati SKM MKep sebagai Ratu Kulon, Sri Wahyuni  MKep SKepMat sebagai Ratu Wetan, Idha Nurhamidah SSMHum sebagai Rantamsari, Dr Turahmat SPd MPd Sebagai Tumenggung Singoranu, Choiril Anwar SPd MPd sebagai Tumenggung Mangun Oneng, Muhammad Yusuf sebagai Kapten Dack, Destary Praptawati SS MHum sebagai Emban Wetan, Dian Marhaeni Kurdaningsing SSos MSi sebagai emban kulon, tentara Belanda dan sebagian penari diperankan oleh mahasiswa Unissula.

Pertunjukan dengan panggung, musik, dan lighting yang megah tersebut di hadiri lebih dari 2.500 pengunjung baik dari dalam maupun luar universitas. Mastondari teater lingkar yang menjadi sutradara drama tiga babak tersebut menyatakan surprise dan terharu atas totalitas peran para dosen dan mahasiswa Unissula yang sangat baik memerankan berbagai tokoh dalam pementasan tersebut meskipun banyak diantaranya yang tidak memiliki jam terbang dalam kesenian.

Drama tersebut menceritakan perjuangan Sultan Agung yang mempunyai cita cita luhur menghapuskan penjajahan VOC dari bumi pertiwi salah satunya dibuktikan dengan dikirimnya pasukan Mataram dibawah komando Tumenggung Bahurekso,  dan Pangeran Mandurareja pada tahun 1628. Sementara penyerangan tentara Mataram ke Batavia setahun kemudian dipimpin oleh Adipati Ukur dan Adipati Juminah.

Baik penyerangan pertama maupun penyerangan kedua menemui kegagalan salah satunya karena siasat keji VOC yang membakar perbekalan tentara mataram dan meracun sungai serta politik pecah belah (devide at impera).

Related News