Tidak terasa kita sudah bersua kembali dengan Ramadan bulan suci 1444 H, itu pertanda bahwa Alloh telah memberikan anugerah besar luar biasa bagi kita, untuk menyambut menyapa, dan bercinta dengan Ramadan-Nya.
ุฑูู ูุถูุงูู ุดูููุฑู ุงูููู ููููุถููููู ุนูููู ุณูุงุฆูุฑู ุงูุดูููููุฑู ููููุถููู ุงูููู ุนูููู ุฎููููููู
Artinya:ย Ramadhan adalah bulan Allah. Keutamaannya dibanding bulan-bulan lain adalah bagaikan keutamaan Allah dibanding dengan makhluk-Nya.ย (Syekh Nashr ibn Muhammad as-Samarqandi,ย Tanbihu-l Ghafilin fi Ahaditsi Sayyidi-l Anbiyai wal Mursalin, Daru-l Kutubi-l Ilmiyyah, halaman: 186)
Dalam satu kesempatan ketika ketika Ramadhan tiba, Rasulullah menyampaikan kepada para sahabat pesan berikut ini:
ููููุฏู ุฏูููุง ุดูููุฑู ุฑูู ูุถูุงูู ูููู ููุนูููู ู ุงููุนูุจูุงุฏู ู ูุง ูููู ุฑูู ูุถูุงูู ููุชูู ููููุชู ุงูู ููุชูู ุงููู ูููููููู ุณูููุฉู
Artinya:ย Ramadhan telah tiba. Seandainya para hamba Allah mengetahui terhadap apa-apa yang ada dalam Ramadhan, maka umatku pasti berharap agar bulan ini tetap ada selama setahun penuh.ย (Syekh Nashr ibn Muhammad as-Samarqandi,ย Tanbihu-l Ghafilin fi Ahaditsi Sayyidi-l Anbiyai wal Mursalin, halaman: 186
Ahlan wa sahlan bi hudzuri Ramadan, Marhaban Sahru Syiham.Marhaban Ya Syahru Qurโan
Berkait dengan ini, Prof Dr Qurais Syihab menyatakan bahwa, menjelaskan kata marhaban terambil dari akar kata rahb (ุฑูุญูุจู) yang bermakna (ููุงุณูุนู, ุฑูุญูููุจู), yaitu luas dan lapang. Sehingga apabila kita kaitan dengan konteks marhaban Ya Ramadan Ya Syahra Syiyam, berari kita menyapa tamu agung yang dating dan disambut, dan diterima dengan penuh lapang dada, penuh keceriaan, serta dipersiapkan bagi Ramadan tempat yang luas untuk melakukan aktifitas apa saja yang disenangi oleh bulan tersebut.
Awalnya dari kara rahbab ini lah terbentuk antara lain kata, ruangan yang luas. Maka untuk menyambut Marhanan Ya Syahra Ramadan, bermakna kami menyambutmu Ramadan, dengan penuh suka cita dan kegembiraan dan memepersiapkan diri untuk berupaya mengasah jiwa demi membahagiakan Ramadan dengan amalaiyah positif didalamnya.
Terkait dengan kenapa disebut Ramadan, tentu terbersit dalam benak fikiran kita. Ternyata kalai kita telusuri, bahwa dalam Bahasa Arab bulan identic dengan kata syahr yang berarti terkenal atau popular. Orang-orang Arab juga biasanya menyebut suatu hal nama, disesuaikan dengan keadaan yang terjadi pada saat itu, dimana nama kata Ramadan terambil dari akar kata Ramidha )ย ย ย ย ุฑูู ูุถู ) yang bermakna โSangat panas, dan membakarโ. Kenapa disebut demikian ? sebab panas matahari yang sangat terik panas luar biasa menyinari padang pasir guru Arab saat itu. Dan bahkan ada juga yang menyebut tentang โbatu karang yang membakarโ.
Secara filosofis, makna Ramadan berarti membakar dosa-dosa yang pernah dilaksanakan dengan konsep menahan diri dari makan dan minum serta apa saja yang membatalkan sahnya puasa. Maka Rosululloh bersabda, โdinamakan dengan bulan Ramadan sebab ia cenderung akan membakar dosa-dosa yang telah dilakukanโ.
Oleh sebab itu, pertemuan kita dengan Ramadan merupakan anugerah yang harus disyukuri dengan melakukan optimalisasi ibadah diniyyah didalamnya, bahkan lebih dari itu, bisa dimungkinkan melaksanakan kegiatan positif berupa ibadah ilmiyah sehingga datangnya Ramadan bagi kita akan membawa secercah berkah barokah dan kerahmatan didalamnya.
Maka pantas saja, jauh-jauh hari Rosul senantiasa berdoa :
ุงูููููููู ูู ุจูุงุฑููู ููููุง ููู ุฑูุฌูุจู ูู ุดูุนูุจูุงูู ูู ุจูููุบูููุง ุฑูู ูุถูุงูู
“Ya Allah berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan (usia) kami berjumpa Ramadhan.” Seolah mereka juga memohon, “Ya Allah sampaikanlah aku dengan selamat ke Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan aku hingga selesai Ramadhan
Kita mencoba mengisi malam siang dan malam Ramadan dengan kegiatan positif seperti berdzikir, tadarus alquran ataupun salaat tarawih berjamaah. Tentu saja yang perlu kita garis bawahi bahwa mengisi Ramadan tidak hanya dimakanai dalam dimensi ibadah Diniyyah saja namun bisa bernuasa ibadah ilmiyah, misalnya dalam hal tarawih dan tadarrus al-qurโan.
Terkait dengan salat tarawih misalnya, ada suatu keistimewaan yang amat besar, diantaranya, anjuran Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah RA, dan merupakan hadis sohih riwayat Bukhori dan Muslim, Nabi Muhammad bersabda :
ู ููู ููุงู ู ุฑูู ูุถูุงูู ููุตูุงู ููู ุฅููู ูุงููุง ููุงุญูุชูุณูุงุจูุง ุบูููุฑู ูููู ู ูุง ุชูููุฏููู ู ู ููู ุฐูููุจููู
Artinya, โBarangsiapa beribadah (pada malam hari) bulan Ramadhan dan berpuasa karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.โ (Muttafaq Alaih). ย Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi dalam kitab Syarhun Nawawi โala Muslim, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan beribadah pada malam hari bulan Ramadhan adalah dengan mengerjakan shalat sunnah Tarawih. Karena itu, mari kita jaga ibadah puasa kita di bulan ini, dan juga kita maksimalkan ibadah shalat Tarawih, agar bisa mendapatkan ampunan dari Allah swt sebagaimana hadits tersebut.โโโโโโโ Sebab apabila direnungkan, bahwa salat tawarih bermakfaat paling tida dua dimensi, pertama, dimensi ruhaniyah (manfaat ruhani), dan yang kedua dimensi jasmaniyah (manfaat jasmani). Manfaat ruhaniyah berupa diampuni dosa-dosa kita yang pernah dilakukan kepada Alloh SWT., tentu doa yang kecil kepada โNya, walaupun juga berpotensi terserah Alloh, bahwa akan juga diampuni dosa besar kita kepada Aloh SWt. Seperti penjelasan Imam Abu Thayyib dalam Kitab โAunul Maโbud Syarhu Sunan Abi Dawuh:
ุฃููู ู ููู ุงูุตููุบูุงุฆูุฑู ููููุฑูุฌูู ุบูููุฑูุงูู ุงููููุจูุงุฆูุฑู
Artinya, โYaitu, mulai dari dosa-dosa kecil, dan diharapkan ampunan dosa-dosa besar.โ
Sedangkan dalam konteks manfaat jasmaniyah, paling tidak salat Tarawih akan mampu membentuk kesehatan tubuh. Tubuh menjadi terhindar dari berbagai penyakit yang berasal dari makanan yang telah dikonsumsi pada saat kita melaksanakan buka puasa. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Muhyiddin Mistu dalam Kitabnya yang terkenal yaitu Kitab As-Shaumu Fiqhuhu wa Asraruhu, halaman 111, ditegaskan bahwa :
ุตูููุงุฉู ุงูุชููุฑูุงููููุญู ุณููููุฉู ู ูุคููููุฏูุฉู ูููุฑููุฌูุงูู ููุงููููุณูุงุกู ูููููู ุนูุดูุฑููููู ุฑูููุนูุฉู ููุชูููููุฏู ููุถูู ู ุงูุทููุนูุงู ู ููุชูููุดูููุทู ุงููุฌูุณูู ู ููู ูุบูููุฑูุฉู ุงูุฐููููููุจู
Artinya, โShalat tarawih sangat dianjurkan bagi laki-laki dan perempuan, yaitu terdiri dari 20 rakaat, dan berfaedah menghancurkan makanan (dalam perut), membangkitkan semangat badah, dan ampunan dosa-dosa.โโโโโโโโ
Alloh SWT telah berfirman dalam QS Al Baqarah 183 :
ููุง ุฃููููููุง ุงูููุฐูููู ุขู ููููุง ููุชูุจู ุนูููููููู ู ุงูุตููููุงู ู ููู ูุง ููุชูุจู ุนูููู ุงูููุฐูููู ู ููู ููุจูููููู ู ููุนููููููู ู ุชูุชููููููู
Artinya: โHai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.โ
Ibadah puasa sebagai mana ibadah pada umumnya, tidak hanya berkaitan dengan soal sah tidaknya, tetapi jika didalami juga memuat beberapa ada yang harus direaliasasikan untuk menjaga kualitas dari ibadah puasa. Wajar saja jika Al Ghazali mengklasifikasikan orang berpuasa kedalam tiga strata, yaitu strata puasanya orang kalangan awam, strata kedua untuk kalangan khusus / khowash (orang-orang shalih), dan strata ketiga (tertinggi) untuk khususul khusus /khowasul Khowash (wali, nabi).
Imam Al Ghazali pun mengkritik untuk mengingatkan kita yang sedang puasa, bahwa:
ูู ู ู ุตุงุฆู ู ูุทุฑ ููู ู ู ู ูุทุฑ ุตุงุฆู
Artinya, โBanyak orang berpuasa, tapi sejatinya tidak. demikian sebaliknya, banyak orang tidak berpuasa, tapi sesungguhnya dialah seperti orang yang berpuasa.โ, demikian dalam Ihya โUlumuddin, Juz 1, hal. 272)
Oleh sebab itu, perlu kita perhatikan nasihat yang disampaikan dalam Kitab Ad-Adabu Fi Din yang termuat dalam Majmuโah Rasil al Imam al-Ghazali (terbitan Kaira, Maktabah At-Tauqifiyah, t.th, halaman 439) , Imam Al-Gazali menasihati kita bahwa kita perlu menjaga kualitas dan kuantitas esensi puasa dengan 6 adab:
ุขุฏูุงุจู ุงูุตููููุงู ู: ุทููููุจู ุงููุบูุฐุงูุกูุ ููุชูุฑููู ุงููู ูุฑูุงุกูุ ููู ูุฌูุงููุจูุฉู ุงููุบูููุจูุฉูุ ููุฑูููุถู ุงููููุฐูุจูุ ููุชูุฑููู ุงููุขุฐูู ุ ููุตููููู ุงููุฌูููุงุฑูุญู ุนููู ุงููููุจูุงุฆูุญู
Artinya: โAdab berpuasa, yakni: mengonsumsi makanan yang baik, menghindari perselisihan, menjauhi ghibah (menggunjing orag lain), menolak dusta, tidak menyakiti orang lain, menjaga anggota badan dari segala perbuatan buruk.โ
Oleh sebab itu optimalisasi ibadayah diniyyah dan ilmiyah menjadi kunci dalam menjalani ibadah di Bulan Suci Ramadan ini.
Salah satu keistimewaan Bulan Ramadan, disebut dengan Bulan Alqurโan. Dimana pada Bulan ini Alqurโan diturunkan, dan Nabi Muhammad sangat senang untuk berinteraksi dengan AlQurโan pada Bulan Ramadan.
Namun seringkali bahwa ibadah tadarus Alqurโan di Bulan Ramadan hanya dimaknai dari sisi aspek ibadah Diniyyah saja, padahal sebetulnya terkait juga dengan ibadah Ilmiyah.
Dalam konteks interkasi dengan Alqurโan, paling tidak ada tiga (3) ulama terkenal yang menyoal hal ini. Pertama Imam Al-Ghazali yang menulis bab tata kesopanan membaca Al-Qurโan dalam Kitab Ihya Ulumuddin nya; 2) Imam An Nawawi yang secara khsusus dan detail dama membahas adab membaca dan menghafal Alqurโan dalam Kitabnya At Tibyan. 3) Syekh Prof Dr Yusuf Qardhawi, ulama Mesir yang menulis kita Kaifa Nataโamal Maโal Qurโan (bagaimana mekanisme dalam berinteraksi dengan Al-Qurโan).
Tentu bagi kita yang berada diwilayah civitas akademika, berintekasi dengan Al-Qurโan janganlah hanya berhenti dalam tataran membaca (tilawah) saja, namun lebih dari itu, karena hakikatnya berinteraksi dengan Al-Qurโan bisa berdimensi ibadah diniyyah dan ilmiyah.
Setidaknya ada 6 (enam) cara dalam Kaifa Nataโamal Maโal Qurโan berinteraksi dengan Al-Qurโan apalagi di Bulan mulia penuh keberkahan bulan Ramadan ini.
Pertama, Tilawah, yaitu membaca.
Kedua, Tafhim, yakni memahami,
Ketiga, Tanfidz, melaksanakan.
Keempat, Tahfidz, menghafal.
Kelima, Taโlim yaitu mengajarkan
Dan Keenam tahkim yaitu berpedoman pada Al-Qurโan.
Pertama Tilawah, kata ini secara khusus di gunakan Al-Qur’an untuk merujuk pada maksud membaca teks-teks suci yaitu kitab-kitab yang di turunkan kepada para Nabi baik itu kitab Taurat, Zabur, Injil maupun Al-Qur’an, sebagaimana contoh di dalam surat Al-Kahfi ayat ke 27 (utluu maa uhiya ilaika) dan surat Al-Baqarah ayat 129 (yatluu โalaihim aayatik).
Selain redaksi tilawah, ada kata lainya yang sering digunakan yaitu qaraโa atau iqra, tetapi kata ini ternyata bersifat umum dan bisa diimplementasikan dalam konteks membaca teks apapun termasuk juga Al-Qurโan. Dalam ranah ini, membaca tentu saja menjadi aktifitas awal kita untuk berintekraksi dengan al-Qurโan, karena bagaimana kita akan mengenal al-Qurโan tanpa membacanya ? Oleh sebab itu sebagai Muslim, apabila belum mahir dalam mebaca Al-Qurโan silahkan untuk belajar secara optimal, insyaAllah akan dimudahkan, apalagi puluhan bahwa ratusan metode dalam membaca dan belajar Al-qurโan sangat banyak ragamnya.
Membaca Al-Qur’an merupakan perintah dalam ajaran islam oleh karenanya menjadi ibadah dan akan mendapat pahala kebaikan dari Allah SWT. Setiap ayat yang di baca akan di lipatgandakan pahalanya, dari Ibnu Masโud r.a. bahwa Nabi bersabda;
ู ููู ููุฑูุฃู ุญูุฑูููุง ู ููู ููุชูุงุจู ุงูููู ูููููู ุจููู ุญูุณูููุฉู ุ ููุงูุญูุณูููุฉู ุจูุนูุดูุฑู ุฃูู ูุซูุงููููุง ูุงู ุฃููููููู : ุขูู ุญูุฑููู ุ ูููููููู ุฃููููู ุญูุฑููู ูุงููููุงู ู ุญุฑููู ููู ูููู ู ุญูุฑููู
Artinya: โBarang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak menyebutkan bahwa Alif Lam Mim adalah satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu hurufโ.ย (H.R. Tirmidzi)
Tentu dengan membaca (tilawah) saja tidak cukup dan harus dibekali dengan kesesuaian antara tajwid dan makharijul huruf. Serta harus dibarengi dengan peningkatan berupa tafhim, yaitu mencoba dan berupaya untuk memahami secara ilmiah dan mengerti bacaan Al-Qurโan. Proses tafhim ini bisa diawali dengan tadabbur dan meningkatkan pemahaman terhadap bahasa Arab atau tafsirnya, karena dengan mengerti dan memahami kata dalam Al-Qurโan maka kita akan mengetahui isi darinya.
Setelah tafhim, kita diarahkan pada level berikut nya yaitu Tanfidz, berupa meksanakan dalam kehidupan sehari-hari secara bertahap, konsisten dan berkelanjutan, sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya. Setelah level ini kita diarahkan untuk menapak strata selanjutnya berupa tahfidz yaitu proses memindahkan ayat-ayat Al-Qurโan kedalam relung hati kita. Mengajapa perlu dihafal ? sebab Al-Qurโan merupakan bekal, pedoman dan sebagai waf of life bagi manusia yang akan selalu sholihun likulli zaman wa makan. Yang mana intamassaktum bihi lan tadzillu Abadan.
Selain itu tubuh ini ibadah raga yang perlu di chase seperti battery hand phone. Tubuh manusia harus selalu diberikan bacaan Al-Qurโan supaya senantiasa berisi signal ilahiyyah dan terkoneksi kepada Allah Sst, sehingga dengan nya akan muncul konsep ihsan yang menyatu dalam diri sanubari. Dimana pun dan dalam situasi apapun selalu merasa diawasi oleh Alloh Swt, an taโbudalloh kaโannaka taroh, fainlam takun taroh fainnahu yaroka. Sehingga nilai-nilai spirit puasa akan bisa melekat dan diri setiap Muslim. Dalam konteks ini setiap kita harus menghiasi diri dengan Al-Quran, sahabat Abdullah bin Abbas r.a, berkata bahwa Nabi pernah bersabda:
ุนูู ุงุจูู ุนูุจูุงุณู ุฑูุถููู ุงููููู ุนููููู ูุง ููุงูู : ููุงูู ุฑูุณูููู ุงููููู ุตููููู ุงููููู ุนูููููู ููุณูููู ู ุงููู ุงููุฐูู ูููุณู ููู ุฌููููู ุดูู ู ููู ุงูููุฑุงูู ููุงููุจูุชู ุงูุฎูุฑูุจู.
Artinya: โBarang siapa yang tidak ada dalam tenggorokannya ayat Al-Quran maka seperti rumah yang rusak.โ (HR. Tirmidzi)
Setelah Tahfidz, interaksi berikutnya adalah level Taโlim, yaitu mengajarkan kebali Al-Qurโan kepada orang lain. Maka civitas akademika, harus berupa untuk belajar dan kemudian mengajarkan al-Qurโan kepada orang lain, minimal putra putri, keluarga dekat dan masyarakat secara umum. Sebab hal ini merupakan aktifitas dan tugas paling mulia yang disabdakan Nabi.
ุนููู ุนูุซูู ูุงูู ุฑูุถููู ุงูููููู ุนููููู ุนููู ุงููููุจูููู ุตูููู ุงูููู ุนููููููู ูุณููููู ููุงูู ุฎูููุฑูููู ู ู ููู ุชูุนููููู ู ุงููููุฑูุขูู ููุนููููู ููู.
โSebaik-baiknya kamu adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannyaโ. (H.R. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzy, Nasai, dan ibnu Majah)
Setelah taโlim level berikutnya berupa tahkim, yaitu berpedoman dan menjadi Al-Qurโan sebagai way of life, pedoman dalam kehidupan. Maka standar kehidupan kita adalah Al-Qurโan, itulah puncak interakti dengan Al-Qurโan sebagaimana inpirasi Prof Dr Yusuf Qordlowi dalam Risalah Kaifa Nataโamal Maโal Qurโan.
ย Khutbah Jumโat di Masjid Abu Bakar Assegaf
Oleh : Moh Farhan SPdI SHumย MPdI, Dosen Fakultas Agama Islam Unissula
24 Maret 2023
ย
ย
ย














