Menu 

Fikom Unissula Selenggarakan Seminar Pers Di Era Digital

Monday, November 9th, 2015 | Dilihat : 503 kali
Pers Era digital copy

Gambar: Drs. Suminto Yuliarso, Kepala Monumen Pers Nasional Surakarta dan Trimanah MSi, Dekan Fikom Unissula setelah melakukan penandatanganan Mou

Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unissula menyelenggarakan seminar nasional dengan tema Pers di Era Digital: Sebuah Tantangan Bisnis dalam Praktik Etik Jurnalistik Selasa (27/10). Acara yang diselenggarakan bekerjasama dengan Monumen Pers Nasional Surakarta ini adalah hasil tindak lanjut dari MoU yang ditandatangani antara antar kedua lembaga.

Para pembicara anatar lain Dr Asep Saefudin Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Pasundan Bandung, Setiawan Hendra Kelana Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cybernews dan Mubarok, MSi.

Asep Saefudin dalam materi seminarnya membahas mengenai bagaimana sejarah pers yang berkembang di Indonesia hingga di era digital saat ini. Antara tugas dan etika memang bukan persoalan mudah, tetapi sebetulnya bisa diatasi dengan kemauan belajar dari wartawan untuk terus belajar. Dari perguruan tinggi juga perlu melakukan autokritik, bahwa apakah dalam melakukan pendidikan tidak hanya sekedar pada tataran teoritik tetapi juga aplikatif.

Sementara Mubarok melihat pada sisi kenapa terjadi copypaste atau kloning berita pada media online?. Mubarok memandang bahwa apa yang dilakukan oleh media online adalah karena alasan pertemanan, saling membutuhkan atau gantian, pengin instan dan berita yang mengandalkan rilis, sebagian besar mengandalkan realitas psikologis dan minim investigasi.  Isu penting dari media online menurut Mubarok adalah pada speed, akurasi, traffic dan kredibilitas dengan sumber imajiner. Identitas dan terkadang media juga tega untuk memuat gambar korban susila anak-anak, menyiarkan gambar ilustrasi sembarangan, dan terkadang juga membocorkan identitas narasumber.

Hal-hal inilah yang menjadi keprihatinan tersendiri bagi akademisi seperti Mubarok. Pertanyaan yang mendasar adalah apakah ketika kecepatan itu menjadi ukuran, kemudian dari sisi akurasi menjadi rendah. Kurangnya koreksi berjenjang, dan tayang dulu baru koreksi belakangan. Inilah yang terkadang terjadi di media online. Pelanggaran media siber seringkali terjadi ketika media siber tidak menguji informasi atau melakukan informasi, berita tidak akurat, mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, tidak berimbang (cover both side) dan tidak menyebutkan identitas.

Iwan Kelana, praktisi dan pemred Suara Merdeka Cybernews dalam paparannya memulai dengan pertanyaan apakah media digital sudah beretika atau belum?. Iwan melihat bahwa yang perlu disebarkan adalah data yang masih mentah dan berita yang dibuat biasanya tergantung dari cara menulis dan kedalaman yang bisa dibuat oleh wartawan.

Sebagai wartawan yang sudah lama berkecimpung di industri pers, Iwan melihat bahwa pergeseran perkembangan media saat ini sudah bergeser ke dunia ketiga atau media online, tetapi dalam hal pemuatan berita, tidak mengubah dari esensinya karena tetap perlu ada verifikasi, akurasi, keberimbangan, kebenaran, kepentingan publik dan relevan.  Yang perlu diperhatikan adalah Media online itu berbeda dengan media sosial.  User generated content sekarang sudah diatur dalam pedoman pemberitaan media siber, sehingga tetap saja dari media online juga mengelola komentar-komentar. Iwan juga menceritakan pengalaman-pengalamannya sebagai pengelola media onlline.  Seminar yang mendatangkan peserta dari perwakilan media, kepala sekolah, humas instansi dan dosen-dosen ini ditutup dengan sesi diskusi yang memunculkan berbagai pertanyaan dari peserta terkait dengan etika jurnalistik.

Sementara itu  dekan Fikom Unissula Trimanah MSi  mengatakan bahwa pers di era digital sudah mengalami berbagai perubahan sehingga perlu dicermati, didiskusikan dan ditelaah terutama berkaitan dengan praktik etik jurnalistik. Hal ini karena adanya isu copypaste atau monkey clicking yang dilakukan oleh wartawan di era digital.

 

Related News