Menu 

LKPI ( Lembaga Kajian & Penerapan Nilai-nilai Islam )

Salah satu nilai spesial UNISSULA adalah visinya yang berbunyi bismillah membangun generasi khairaummah, suatu visi yang sangat ideal dalam membentuk suatu generasi yang mengajak pada kebaikan, menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, dan beriman kepada Allah Swt. Suatu visi yang sangat krusial ditengah-tengah dekadensi moral bangsa Indonesia.

Dalam rangka merealisasikan visinya itu, Unissula merumuskan suatu strategi pendidikan di Unissula yang sering dikenal dengan Budaya Akademik Islami (BudAI). Suatu strategi untuk terwujudnya masyarakat pembelajar Islam atau Islamic Learning Society.

Untuk mewujudkan terbentuknya masyarakat pembelajar Islam inilah Lembaga Kajian dan Penerapan nilai-nilai Islam (LKPI) yang berdiri pada tahun 2001 ditujukan dengan ketuanya Drs Arief Kholil Mag, kemudian Prof Ali Mansyur, dan kini diketuai oleh Khoirul Anwar MPd pada tahun 2004 sampai sekarang.

Penerapan BudAI dengan demikian menjadi tangung jawab LKPI. Seperti dituturkan oleh Khoirul Anwar, “Visi kami adalah bagaimana mengantarkan civitas akademika untuk mencapai generasi terbaik melalui pembudayaan dan penanaman karakter”

PAI Integrated

Tentu tidak hanya LKPI sebagai lembaga saja yang memiliki kewajiban mewujudkan terciptanya Islamic Learning Society, semua dosen, mahasiswa terkait semuanya dalam usaha besar ini. LKPI sebagai lembaga tentu tidak dapat serta menghantarkan pelaksanaan BudAI sendirian, dan oleh karena itu LKPI memiliki apa yang disebut dengan PAI Integrated.

“PAI integrated itu bagaimana melibatkan berbagai pihak, termasuk dosen PAI di dalam perkuliahan PAI, mahasiswa dalam kegiatan tutor dan pembekalan tutor, kemudian kemahasiswaan dan bidang III, dan semua yang kira-kira bisa membantu berjalannya PAI integrated kami libatkan, termasuk melalui berbagai kegiatan budai seperti pelatihan dosen dan karyawan, bahkan untuk tes dosen dan karyawan juga melibatkan semuanya.” kata Khoirul Anwar.

Artinya dengan PAI integrated ini aktivitas yang mengarah pada pembudayaan akademik yang Islami dapat dilakukan di berbagai tempat, tidak hanya ketika dalam kegiatan-kegiatan yang memang datang dari LKPI seperti tutorial saja.

“Jadi justru inilah kemudian istilahnya BudAI bisa masuk kemana saja, termasuk siang ini saya mengundang pesantren (asrama unissula-red). Kita yakin bagaimana khaira ummah, bagaimana selama 24 jam itu, melalui asrama pesantren BudAI dijalankan. Ini juga menjadi salah satu cara kita untuk melibatkan yang lain.” terang Khoirul menambahi.

Dalam penjelasannya Khoirul Anwar menambahi, “Kita tidak ingin mahasiswa yang tinggal di asrama saja, tapi bagaimana mereka punya kegiatan-kegiatan yang arahnya ke persoalan pembudayaan juga (pelaksanaan BudAI-red).”

Harapan dari pelibatan ini tentu saja karena pembudayaan tidak dapat berjalan dalam sistem yang tidak memilik asrama/boarding atau pesantren. Dengan demikian rusunawa atau asrama yang ada di Unissula tidak hanya hanya berfungsi dari segi fisik bangunannya saja saja tapi juga memiliki kegiatan-kegiatan yang nantinya akan lahir cendekiawan yang integrated.

Khatam al-Qur’an

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh LKPI dalam kerangka BudAI adalah tutorial ibadah dan membaca al-Qur’an untuk mahasiswa baru. Kegiatan ini sudah berlangsung bertahuan-tahun dan sukses.

Untuk meningkatkan kegiatan ini, maka LKPI melakukan pengembangan berupa bagaimana agar mahasiswa tidak hanya mampu membaca al-Qur’an, tapi juga mampu khatam al-Qur’an.

“Nantinya para mahasiswa itu ada yang dijadikan sebagai tempat setoran mengaji. Dalam kegiatan ini kami melibatkan JQWH (jam’iyyah qurro wal huffadz), pesantren, dan mahasiswa SPI, kemudian disini ketika ada mahasiswa yang sudah lancar, mau setor silakan. Nantinya punya daftar presensinya, hari ini setoran berapa, juz berapa. Inilah peningkatan yang kami lakukan, tidak hanya pembelajaran al-qur’an.” terang Khoirul Anwar.

“Bahkan kedepan pak rektor ingin sampai pada tahapan memahami terjemah Al-Quran. Sehingga kami sudah kerja sama dengan pihak TAMYIZ.” lanjut Khoirul Anwar.

Visi seperti ini tentu saja tidak dapat dengan mudah dicapai, namun keberadaan JQWH yang notabene mahasiswa tahfidz adalah potensi yang dapat digali sehingga sangat mungkin sekali Unissula juga memiliki pusat studi al-Qu’ran atau Qur’an Learning Center (QLC)

“Kita bercita-cita punya Qur’an Learning Center (QLC), namun karena nama ini sudah dipakai di Jakarta,mungkin namanya adalah Pusat Pengembangan Al-Qur’an.” jelas Khoirul.

Nilai spesial Unissula yang lain adalah bahwa karywan atau dosen yang hendak mendapatakan kenaikan pangkat, harus lulus tes baca al-Qur’an terlebih dulu. “Di Unissula ini sungguh luar biasa, untuk kenaikan pangkat karywan itu harus lulus ujian membaca Al-Qur’an. Hal ini bertujuan bagaimana memotivasi (para karyawan dan dosen) agar mau belajar dan belajar Al-Qur’an.” tutur Khoirul Anwar. Untuk pegawai yang nilai tes baca Al-Qur’annya kurang, maka diberikan pembinaan, agar dari tidak bisa menjadi bisa, dari bisa menjadi lancar.

Pembudayaan ini tentu tidak begitu saja dapat dilakukan seperti membalikkan telapak tangan, banyak tantangan dihadapi oleh LKPI dari para karyawan. “Tantangannya karena ini persoalan kemauan. Tapi karena dengan alasan kesibukan, pekerjaan. Dan hanya karena ada kenaikan pangkat saja, tapi setelah itu sudah ya sudah. Inilah tantangannya, yaitu bagaimana menjadikan belajar al-quran sebagai kebutuhan kita.” ujar Khoirul menjelaskan.

Tantangan lainnya adalah datang dari mahasiswa. Masalahnya adalah kegiatan yang datang dari LKPI belum dikaitikan dengan peraturan yang lain, misalnya menjadi syarat wisuda. “Karena kalau tidak di kaitkan dengan peraturan yang lain, kemauan belajar alquran hanya setengah-setenah.” Tambah Khoirul Anwar.

Tantangan pembudayaan BudAI ini harus diakui sifatnya turun naik, LKPI harus selalu mengingatkan, mengajak, yang persoalannya adalah bahwa LKPI dulu memiliki tim motivator yang berperan dalam mengingatkan dan mengajak civitas akademik untuk menerapkan BudAI, dan sekarang diyakini motivator itu ada di tiap-tiap fakultas. Akan tetapi ternyata tiap-tiap fakultas berbeda dalam pelaksanaan BudAI-nya.

LKPI nanti akan mengakda kegiatan sharing antar fakultas, pengalaman-pengalaman dalam pelaksanaan BudAI, sehingga bisa diambil mana yang bisa diterapkan untuk semua fakultas agar nantinya tidak fakultas satu bagus, fakultas lain tidak.

“Kemarin kami sudah bertemu rektor dan membahas tentang peningkatan pelaksanaan BudAI, dalam bentuk workshop bagaimana pengalaman pelaksanaan BudAI di masing-masing fakultas. Karena ada beberapa fakultas dari sisi pembudayaan pakaian Islami sudah jalan, karena memang aturannya diberlakukan. Jadi kuncinya ada di masing-masing fakultas.” kata Khoirul.

Islamic Learning Society

Selain kegiatan-kegiatan diatas, LKPI juga telah menerbitkan beberapa buku. “Alhamdulillah dari semua kegiatan kita, telah di-buku-kan. Kedepan kita mau menelorkan buku-buku yang berkaitan dengan BudAI. Seperti baru-baru ini, pak rektor dan mas Mujib (Mujib El-Shirazy-red) menulis buku berjudul “The Best Life” yang isinya adalah bagaimana khoiru ummah itu dan ditulis dalam cerita-cerita. Kemarin puasa juga ada kajian para tokoh yang ingin kita terbitkan dalam bentuk buku, kendalanya adalah karena penulisnya banyak, jadi ada yang sudah jadi dan ada yang belum.” kata Khoirul.

LKPI berkeinginan nanti bukan hanya berupa pelatihan saja, tapi menghasilkan karya ilmiah dalam bentuk buku dan sebagainya sehingga bisa dikonsumsi masyarakat, “alhamdulillah buku kita saat ini sudah diterbitkan oleh Rajawali Press, dan diterbitkan dalam skala nasional.” Jelas Khoirul menambahkan.

Sebenarnya, nama LKPI dari sisi organisasi sudah berubah menjadi Islamic Learning Society (ILS), dan ILS sendiri adalah gambaran ideal tentang masyarakat pembelajar Islami dengan 19 ciri. Kesembilan belas ciri ini akan terwujdu ketika BudAI ini dijalankan di Unissula.