Menu 

The Development on Islamic Civilization Between Indonesia and Marocco

Thursday, December 9th, 2010 | Dilihat : 410 kali

 

Seminar Internasional yang diadakan Unissula dalam rangka peringatan tahun baru Hijriyah mendapatkan sambutan yang luar biasa setidaknya tercermin dari 300 peserta yang memadati acara yang dihelat di gedung B Fakultas Kedokteran (10/12). Seminar ini menghadirkan dua narasumber yakni  H Tosari Widjaya (Dubes RI untuk Maroko) serta Prof Eserrhrini Farisi (Rektor universitas Sidi Mohammed ben Abdallah Maroko). Dalam sambutannya Eserrhrini Farisi sangat ingin meningkatkan hubungan kerjasamnya dengan Unissula. Bahkan ia sangat tertarik untuk menigkatkan kerjasama pendidikan tersebut secara lebih spesifik. Ia juga sangat bangga bisa berkunjung ke Unissula dan menganggap kampus yang terletak di Jalan Kaligawe tersebut sebagai seperti rumahnya sendiri.

Sambutan Prof Laode Kamaluddin PhD (Rektor Unissula)

Indonesia banyak dikenal di luar negeri sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia juga sebagai negara yang paling banyak mengirimkan jamaah haji serta terkenal jamaah hajinya sebagai yang paling tertib di Arab Saudi. Tetapi jika ditanya tentang sejauhmana dan apa sumbangan masyarakat muslim Indonesia terhadap peradaban dunia maka jawabnnya sangat kecil. Hal itu bukan terjadi karena masyarakat di Indonesia bodoh tetapi lebih pada sangat terbatasnya tulisan tulisan para pemikir (Ulama) yang tidak diterjemahkan dalam bahasa internasional seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab. Sehingga dari itulah Unissula ingin mengambil peran dalam rangka menjembatani keterbatasan itu dengan banyak melakukan kerjasama pendidikan dengan pusat peradaban di dunia termasuk juga dengan universitas universitas di Maroko.

Saat saya (rektor Unissula) mengunjungi Maroko beberapa bulan lalu sempat mengunjungi empat universitas di sana dan salah satunya adalah universitas Sidi Mohammed Ben Abdallah yang berada di kota Fez Maroko. Dan kami berkesempatan mengunjungi sebuah perpustakaan legendaris di kota Fez yang dibangun pada abad ke VI. Kita sering menjadikan Mesir dengan Alazhar nya sebagai referensi keilmuan tetapi terkadang tidak begitu memperhitungkan Maroko sebagai salah satu yang juga memberikan sumbangsih yang banyak bagi peradaban.

Sambutan Dubes RI Untuk Kerajaan Maroko (Tosari Widjaya)

Saya memberikan judul pidato ini membangun jembatan kebudayaan Indonesia dengan Maroko. Langkah rektor sudah tepat  dengan membangun hubungan kerjasama pendidikan dengan universitas di Maroko karena pada dasarnya Maroko memang mempunyai andil besar dalam sejarah bangsa ini misalnya saja banyak ulama dari Maroko yang berperan menyebarkan ajaran Islam di Nusantara misalnya saja Maulana Malik Ibrahim salah satu Walisongo yang wafat di Gresik, begitu juga dengan Ibnu Batutah yang juga telah banyak menulis perjalananya saat mengunjungi Nusantara. Demikian juga sebaliknya saat Indonesia menggelar konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955 saat itu Maroko masih belum merdeka dimana KAA menjadi inspirasi kemerdekaan di Maroko. Presiden Soekarno juga merupakan presiden pertama di dunia yang mengunjungi Maroko pasca Negara yang terletak di Afrika Utara tersebut merdeka. Dalam lawatan kenegaraan tersebut presiden Soekarno memperoleh apresiasi yang sangat luar biasa dari masyarakat di sana dimana salah satu pengakuan itu diwujudkan dengan pemberian nama Jalan Jalan disana yang beraroma Indonesia antara lain Jl Soekarno, Jl Indonesia, Jl Bandung dan Jl Jakarta yang masih tetap ada dari tahun 60 hingga saat ini. Bahkan salah satu ungkapan yang sangat terkenal ketika itu ialah “ Bangsa Indonesia telah memberikan contoh kepada kami (Maroko) bagaimana memperlakukan penjajah”.

Kebanyakan dakwah di Indonesia dilakukan dengan dakwah bil lisan (perkataan/ ) ceramah), bil hal (teladan) dan yang masih kurang adalah dakwah bil kalam (tulisan/ literature) sehingga  banyak pemikiran genuine dari para Ulama kita yang tak dibaca oleh dunia, dan dakwah bil siasah (politik) juga belum terlalu banyak digunakan di negeri ini karena banyak diantara pemimpin di negeri  ini ketika sudah menduduki jabatan politis justru terjebak pada kekuasaan dan korup.

Keterangan Gambar

Prof Eserrhrini Farisi Rektor univ Sidi Mohammed Ben Abdallah memberikan ceramah

Related News